Ada dua orang anak yang mengaku berbakti kepada Ibunya. Keduanya selalu mengaku ingat kepada jasa-jasa Ibunya sewaktu mereka masih diasuh dan dibesarkan dulu. Mereka kini sudah dewasa, hidup mandiri, punya rumah sendiri. Mereka berdua tidak lagi tinggal bersama Ibunya seperti masih kecil dulu. Keduanya mengaku sayang kepada Ibunya. Buktinya keduanya selalu mengaku ingat dengan Ibunya. Namun keduanya berbeda.
Bedanya, anak yang satu tidak sekedar ingat. Ia secara rutin meluangkan waktu untuk menelpon Ibunya, menanyakan kabar, bahkan disela-sela kesibukkannya, memberi perhatian. Di akhir pekan atau waktu tertentu setiap bulannya, ia meluangkan waktu untuk berkunjung kepada Ibunya. Datang kerumah Ibunya, mencium tangan, memeluk hangat dan berbagi kabar-kabar baik ataupun duka, membawakan atau membelikan sesuatu. Berbicang, tertawa ataupun berbagi sedih dengan Ibunya. Untuk kemudian Sang Ibu dengan sifat kasih sayangnya, memeluk, membelai rambut si anak menasihati, menyemangati dan membesarkan hati anaknya. Sepulang mengunjungi Ibunya, si anak merasakan kebahagiaan, ketenangan sekaligus kekuatan jiwa.
Sedangkan anak yang satu lagi, mengaku bahwa ia pun demikian. Ia mengaku selalu ingat dan berterima kasih dengan Ibunya. Hanya saja ia tidak meluangkan waktu untuk sekedar menelepon apalagi secara rutin untuk bertemu, mengunjungi Ibunya secara langsung. Ia berdalih tidak perlu sedemikiannya, ia pun percaya bahwa Ibunya pun demikian. Ia percaya sang Ibu pun mengingat dan tetap menyayanginya. Benarkah demikian ?
![]() |
| source : pengumpulhikmah.blogspot.com |
Kisah inilah yang aku sampaikan kepada kawan yang menanyakan mengapa ia harus sholat, sedangkan dia merasa cukup hanya dengan mengaku percaya dan ingat Tuhan. Analogi inilah yang kuceritakan kepada kawan yang sudah dewasa dan menjadi orang tua yang tidak merasa penting bahwa dia sebagai muslim harus menjalankan sholat. Tuhan memang memiliki sifat Rahman, tetapi apakah kita mendapatan sifat Rahim-Nya ? Maka apabila sudah dewasa dan sudah menjadi orang tua yang memiliki anak, menjawab atau sekedar merenungkan hal ini menjadi lebih mudah.



